Lajang, perumpamaan manusia ketika sendiri. Berfikir pun hanya sendiri, bertingkah sendiri, bereksplorasi sendiri. Ada yang salah? Tidak..,semua benar dalam benaknya.
Berpasangan, perumpamaan ketika manusia tidak sendiri. Selalu menselaraskan fikirnya, tingkahnya, pendapatnya dengan pasangannya. Sulit? Belum tentu.
Akan banyak muncul pertanyaan n keluahan.
Dasar berfikir berbeda tergantung lingkungan dmn dia hidup. Ada yang salah dengan jln fikiran masing-masing? Tidak.
Trus? Kl sama-sama dengan jalan fikiran beda bisa satu? Tidak tahu.
Apa harus dipaksakan satu? Walaupun hanya satu di kulitnya?
Sejalan hanya pada apa yang terlihat, namun secara pemikiran berbeda. Pantas disebut berpasangan?
Kl nurutin hasrat manusia ya cari yang terbaik,,padahal dari yang terbaik ada yang lebih baik lagi.
Apa hubungannya dengan komitmen? Apakah untuk saling menjaga n membatasi keterbatasan masing-masing?
Apakah berpasangan sudah cukup hanya dengan persamaan tujuan hidup?
Atau kah ada faktor lain?
Saling membutuhkan misalnya, butuh apanya?
Batin atau fisik?
Apa perlu muncul pertanyaan sebanyak itu?
Atau...apa pertimbanganmu berpasangan?
Cari yang terbaik lagi?
Yang lebih mengerti...lebih ini dan itu?
Sudah ketemu belum dengan pasangan yang seperti itu?
Jika tak keberatan, jawabanku adalah kamu.
Jumat, 16 Desember 2011
''terbicara''
Kursi tua tergeletak dan terpojok di tengah senggang sudut ruangmu, bukan untuk sekedar terpandang. Namun, goresannya telah teriwayatkan oleh daging berumur yang penuh dengan resapan air garam.
Sahut menyahut terdengar hujatan dan terus berlari. Satu persatu,,akhirnya menumpuk,,,hingga dengan begitu mudahnya sebentuk perasa terengah berbalik terbalik.
Kala reda,,,huntai kata serta kejujuran hati dan niatnya terlampaui menjadikannya buah ketulusan.
Setelah selesai mendengarkan hal pantas, aku memberanikan diri dengan niat dan nilai ketulusan atas makna perasaan telah aku utarakan.
Bukan maksudku untuk mengusik, bukan pula jalan simpang yang aku jadikan alasan.
Aku hanya ingin kamu merasakan sekedarnya aku atas maksudku.
Dan ketika kamu memang dalam saat merasakannya, aku adalah orang pertama yang akan membantumu mendapatkannya yang tengah terduduk.
Dan ketika kamu begitu lebih dalam merasakannya, aku adalah orang pertama yang akan membantumu melihatnya berlari.
Sahut menyahut terdengar hujatan dan terus berlari. Satu persatu,,akhirnya menumpuk,,,hingga dengan begitu mudahnya sebentuk perasa terengah berbalik terbalik.
Kala reda,,,huntai kata serta kejujuran hati dan niatnya terlampaui menjadikannya buah ketulusan.
Setelah selesai mendengarkan hal pantas, aku memberanikan diri dengan niat dan nilai ketulusan atas makna perasaan telah aku utarakan.
Bukan maksudku untuk mengusik, bukan pula jalan simpang yang aku jadikan alasan.
Aku hanya ingin kamu merasakan sekedarnya aku atas maksudku.
Dan ketika kamu memang dalam saat merasakannya, aku adalah orang pertama yang akan membantumu mendapatkannya yang tengah terduduk.
Dan ketika kamu begitu lebih dalam merasakannya, aku adalah orang pertama yang akan membantumu melihatnya berlari.
Label:
cerita
Langganan:
Entri (Atom)