Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan

"hey kamu, sebelum kamu tahu"

Senin, 15 Juli 2013
Kursi tua tergeletak dan terpojok di senggang sudut ruangmu. Bukan untuk sekedar terpandang. Namun, goresannya telah teriwayatkan oleh daging berumur yang penuh dengan jamur.
Sahut menyahut terdengar hujatan dan terus berlari, hingga dengan begitu mudahnya sebentuk perasa terengah.
Kala reda, huntai kata serta kejujuran dan niatnya terlampaui menjadikan buah ketulusan.
Setelah selesai mendengarkan hal pantas, aku memberanikan diri dengan niat dan nilai atas makna perasaan telah aku utarakan.
Bukanku bermaksud untuk mengusik, bukan pula jalan simpang yang aku jadikan alasan. Aku hanya ingin merasakan sekedarnya atas maksudku.
Dan ketika kamu memang dalam saat merasakannya, aku adalah orang pertama yang akan membantumu mendapatkannya yang tengah terduduk.
Dan ketika kamu begitu lebih dalam merasakannya, aku adalah orang pertama yang akan membantumu melihatnya berlari.
Begitulah kira-kira.

"peran tangan dalam pesan"

Selasa, 26 Maret 2013


Hey,
rasa terimakasihku tidak cukup untukmu yang telah memperkenalkan aku pada musik ini.
Benar-benar aku menyukai ini, aku merasa bahwa itu merubah perasaanku tentang kota yang kutinggali.
Hubungan yang sedikit bertentangan.
Aku telah menemukan bahwa kamu telah menggantikan bunyi klakson dan teriakan dengan berkata Schubert atau Telemann.
Kota ini menjadi tidak tertahankan indahnya.
Setelah bertahun-tahun berada dalam kecemasan tersebut, musik ini seperti memediasi perdamaian antara kita.
Pembukaan favoritku, Massenefs Meditation.
Jika begitu banyak karya musik tersusun lebih indah, maka aku tidak tahu akan itu.
Bahwa Concerto Brandenburg bukanlah lelucon, dan aku tahu perasaanmu tentang Beethoven.
Aku tidak tahu maksud karya Vivaldi dari Giustino bercerita tentang apa. Tapi bagiku, itu seperti muslihat. Semacam persimpangan ganda yang elegan. Membuatku merasa seperti seorang agen ganda yang berlutut pada mata-mata seksi.
Aku sudah memutuskan untuk lagu pembukaannya darimu, harus datang dengan label peringatan.
Menurut beberapa survey riset online, pertunjukan opera dilakukan dengan perjuangan antara cinta yang sakral dan cinta yang terlarang. Bisa dibilang hanya ada perjuangan.
Suatu hari, aku dipersimpangan jalan. Aku terlupa sesuatu, suatu keadaan yang tidak biasa. Aku mendengarkan sebuah musik pengantar dan musiknya semakin menggema, aku tiba-tiba menyadari bahwa aku punya tangan dan kaki dan badan. Dan aku dikelilingi oleh orang-orang dan mobil.
Sangat sulit untuk menjelaskan apa yang terjadi, tapi aku merasa pada saat itu adalah takdir Tuhan. Namun, ketika kita merasakan hal itu, kita akan berdiam dalam hal yang kongkrit. Seperti halnya di sungai, danau, dan pegunungan. Bersyukur, aku menyadari, bukanlah waktu yang terhenti. Yang kita butuhkan adalah soundtrack yang tepat.
Aku pikir ini infus musik baru dalam hidupku. Setidaknya, membuatku kembali dari kematian yang terburu-buru.
Dan aku berterimakasih akan hal itu kepadamu. Bagaimanapun.
Temanmu.

Semua berjalan lancar.
Senang kau menyukai musik ini.
Aku merasa seluruh hidupku menjadi bersemangat saat mengambil kelas itu, hal yang harus aku lakukan.
Bahwa manusia telah menulis musik itu. Apakah orang-orang menulis musik seperti itu saat ini?
Jika iya, aku tidak tahu tentang hal itu.
Aku harap kamu jatuh cinta dengan karya itu, dari Cosi fan Tutte. Aku menemukannya, saat aku mendengarkannya untuk beberapa alasan.
Semua orang yang kulihat menjadi menarik.
Silahkan bereksperimen dengan itu dan kembali padaku.

Kau benar tentang karya Mozart.
Entah bagaimana membuat semua orang disini seperti pasangan romantis yang bersemangat.
Aku tidak bisa menghindarinya lagi, sepertinya aku suka opera.
Jangan beritahu siapapun tentang ini, jangan pernah.
Serius.

Rahasia operamu aman denganku.
Aku mendengarkan musik ini setelah menulis surat untukmu.
Aku senang mendengarmu mengambilnya dan meninjau mereka.
Dan meskipun jarak berada diantara kita, dan mengetahui kalau kita mendengarkan suara yang sama membuatku merasa kamu tidak sejauh itu.
Jika aku belum menjelaskan tentang ini, aku merindukanmu.
hmm. aku tidak benar-benar tahu mengapa.
Aku baru saja mengenalmu.
Omong-omong, surat tulisan tangan? adalah hal terhebat di dunia.
Tetaplah seperti itu.

Kamu bertanya mengapa musik seperti ini tidak ditulis sekarang.
Aku ingin tahu apakah para komposer-komposer ini mengekspresikan sesuatu hal lewat musik yang terlalu besar untuk kondisi psikis kita saat ini.
Pokoknya, semua baik-baik saja disini.

Kuliah berlanjut.
Kuliah masih panjang.
Meditation massenefs, misalnya.
Dan aku kawatir kalau sistem sarafku sakit dipenuhi oleh besarnya perasaan.
Aku yakin jika disini pada saat yang sama, kita bisa jadi teman baik.
Akankah musik ini menjadi kematianku?
Jika demikian, kamu akan memegang darah ditanganmu.
Bisakah kau berurusan dengan itu?

Seperti aku mencintai huruf-huruf ini.
Aku ingin bertemu kamu lagi.
Lebih cepat lebih baik.
Jadi balik kesini dan temui aku.
Orang-orang disini berlanjut dari 18 ke 22 tahun, dan mereka terus bertindak sesuai usia mereka.
Aku ingin penelpon pria, dan aku ingin itu kamu.
Teman kamu.

Aku memutuskan untuk menawarmu.
Aku akan kesana tanggal 14 dan menginap di penginapan.
Tapi aku ingin untuk jalan-jalan, dengan santai.
Menunggu untuk itu.

"out of the blue"

Selasa, 12 Februari 2013

Kembali ke tempat dimana kita pernah bertemu setelah sekian lama
Membangun tenda disana dan aku akan menetap
Menuliskan sebuah pesan di sebuah cardboard dan foto kamu ditanganku
Bertuliskan,"If you see this girl can you tell her where I am? "

Beberapa mencoba memberiku uang recehan, mereka tidak mengerti
Aku tidak cacat, aku hanya seorang pria yang sedang sakit hati
Aku tau ini bukan sebuah solusi, tapi apa lagi yang bisa kuperbuat
Bagaimana aku bisa bangkit, ketika aku masih mencintaimu

Ketika suatu hari kamu bangun dan merindukanku
Dan kamu bertanya-tanya dimana aku sekarang
Berfikir bahwa ketika itu terjadi, mungkin kamu akan kembali ketempat dimana kita pernah bertemu
Kamu akan menemukanku disini, di sudut jalan
Jadi, aku akan tetap disini

"Kamu tidak bisa tinggal disini." Kata Pak Polisi
Aku bilang,"Saya sedang menunggu seseorang, mungkin sehari, satu bulan, atau bahkan setahun."
Aku akan tetap disini meski panas ataupun hujan
Jika dia berubah fikiran, disinilah tempat pertama dia akan pergi

Orang-orang saling bergumam tentang lelaki yang sedang menunggu perempuannya
Tidak ada lobang disepatunya, tapi terdapat lobang dalam kehidupannya

Mungkin aku akan terkenal dengan nama "lelaki yang tidak dapat dipindah"
Mungkin kamu juga tidak menyangka, aku akan muncul diberita
Dan kamu akan berlari menuju sudut jalan dimana aku menunggumu
Karena kamu tau itu semua hanya untukmu

"Mas, recehnya itu koq dah banyak. Buat beli secangkir kopi saya saja boleh koq" Seorang perempuan separuh baya menawarkan dagangannya.
"He? Kopi?" Tanyaku.
"Iya kopi. Secangkir saja." Tegasnya.
"Boleh, secangkir buat saya."

"Loh? Koq semua recehnya dikasih ke saya, Mas?" Tanya perempuan itu terheran.
"Iya buat kamu semua saja."

"Mas, ini rokok apa? Koq bagus, warnanya hitam ijo bungkusnya.." Tetiba seorang lelaki muda menghampiriku.
"He?"
Diambilnya sebungkus rokok yang ada di depanku,,diputar-putar bungkusnya, dibaca-baca tulisan yang ada dibungkus rokok itu, dibukalah akhirnya, diambilah satu batang,,dimainkan di tangannya dengan memutar membalik mencium aromanya, ditaruh lagi bungkus rokok itu,
"Kamu mau?" Tanyaku.
Tidak ada jawaban dan cuma cengengas-cengenges sambil mainkan sebatang rokok ditangannya sambil sesekali menciumi aromanya.

"Mas, laper nggak?" Tanyanya.
"He?"

"Mas, ngapain disini?" Tanyanya lagi.
"He?" kembali aku melongoh.

"Mas, pinjam koreknya dong."

"....?!" *krikkrik*

"Nama mas siapa?"
"Saya sedang minum kopi, kamu mau?"

"Rumah mas dimana?"
"Saya belum tau mau sampai kapan saya disini."

"Mas, darimana?"
"Kaki saya masih kuat berjalan sendiri."

"Ini foto siapa mas?"
"Ega."

"Tang tong. Perekatan kosa kata kita pada malam."



Rentang tangan sudah tak mampu untuk menahan, 
rebahkan badan tetap beremosi meronta-ronta liarkan yang terpendam. 
Bukan barang bukan benda, karna aku hidup bertujuan, karna aku hidup juga untuk sesamaku. 
Hadir bisu di tengah durhaka anak malang terhadap hitamnya dunia. 
Setengah terdiam menahan, berusaha selalu sopan. 
Akhirnya, mereka saling berteriak, mengaumkan bidak toleransi akan moral!
"Kalian semua Tai! Mana hak ku!"
"Ini, di tanah ini aku berjuang! Bahkan sewaktu-waktu lahat dapat ku lihat di depan ku."
Karena meski hanya sebuah prosa, bukan berarti di depan ku hanya mati!

Penekanan ketentuan bagaimana berbuat, bagaimana bertindak, bagaimana berfikir, sudah selesai kalian lontarkan.
LONTAR! Kalian lempar!
Siapa yang menangkap, mereka yang akan berbenalu pada kalung kalian.

BASI!!