Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

"Paspor Republik Indonesia"

Senin, 29 Februari 2016
Hai....
Karena beberapa rekan bertanya ke saya mengenai pembuatan paspor, ada sedikit informasi yang bisa saya ceritakan.


Buku hijau yang satu ini mutlak diperlukan saat kamu akan bepergian ke luar negeri.
Jika belum memiliki paspor, kamu bisa membuatnya di kantor imigrasi (kanim) di kota kamu.
Dokumen yang harus dilampirkan saat pembuatan paspor baru, antara lain:
*Kartu tanda penduduk (KTP) yang sah dan masih berlaku atau resi permohonan kartu tanda penduduk;
*Kartu keluarga;
*Akte kelahiran, akta perkawinan/buku nikah/ijazah/surat baptis;
*Surat keterangan bekerja dari perusahaan bagi yang bekerja.

Bagi yang sudah memiliki paspor, cek kembali masa berlaku paspor. Untuk perjalanan ke Eropa, rata-rata minimal masa berlaku adalah enam bulan sebelum masa berlaku habis. Syarat untuk penggantian paspor lama sama seperti pengurusan baru, hanya saja kamu perlu melampirkan paspor lama.

Kamu bisa mengajukan permohonan secara manual, yaitu menyerahkan berkas, meninggalkannya selama sekitar dua hari, kemudian datang lagi untuk pembayaran, foto, dan wawancara, baru kemudian kembali lagi untuk mengambil kembali  mengambil paspor yang sudah jadi beberapa hari kemudian. Jadi kamu bisa bolak balik tiga kali untuk membuat atau memperpanjang paspor.

Untuk menghemat waktu, kamu bisa mengajukan pembuatan paspor secara online melalui situs resmi kantor imigrasi: www.imigrasi.co.id Di sini kamu bisa mengisi formulir secara online, men-scan dokumen yang diperlukan, kemudian memilih lokasi kantor dimana kamu akan mengajukan permohonan dan tanggal yang kamu inginkan untuk datang ke Kanim bersangkutan. Nantinya, kamu akan mendapatkan surat bukti permohonan aplikasi yang kemudian di-print.

Setelah itu, kamu tinggal datang ke Kanim bersangkutan dengan membawa surat bukti permohonan, dokumen asli, dan fotokopinya seperti yang sudah disyaratkan. Siapkan juga biaya pembuatan paspor (biasa, 48 halaman) yaitu sebesar Rp, 300.000,- atau recheck ke biaya bikin paspor
Sebelum menyerahkan berkas (di loket khusus online), kamu juga diharuskan mengisi formulir pengajuan paspor baru atau penggantian paspor lama di kantor imigrasi yang kemudian dimasukkan ke dalam map warna tertentu bergantung kanim bersangkutan. Untuk kanim Jakarta Selatan, misalnya, map berwarna kuning, sedangkan kanim Jakarta Barat memakai map biru muda.

Pihak imigrasi biasanya memiliki loket tersendiri untuk layanan aplikasi online dan biasanya antreannya tidak seramai atau sepanjang yang memakai jalur manual. Nantinya, kamu tinggal menyerahkan berkas dan mengambil antrean untuk pembayaran,foto, dan wawancara. Paspor kamu akan siap diambil sekitar empat atau lima hari kerja.

TIPs :
*Perpanjang paspor bisa dilakukan sekitar enam bulan sebelum masa berlaku habis.
*Hindari menggunakan jasa calo. Selain mahal (berdasarkan cerita beberapa orang dan hasil pengamatan pribadi, calo meminta imbalan mulai Rp, 700.000,-), juga beresiko karena "nya-wa"kamu atau dalam arti dokumen-dokumen kamu berada ditangan orang lain. Banyak orang menggunakan jasa calo karena "malas" mengurus paspor atau bahkan waktu yang mepet untuk pengurusan paspor melalui cara manual. Sebagai antisipasi, sebaiknya jika kamu berniat bepergian ke luar negeri, uruslah paspor jauh-jauh hari sebelum tanggal keberangkatan agar kamu tidak kelabakan.
*Pastikan semua dokumen kamu lengkap. Semua dokumen juga harus difotokopi di atas kertas A4. Untuk fotokopi KTP dan paspor lama (yang berukuran lebih kecil dari A4) kamu tidak perlu mengguntingnya. Jika tidak memenuhi ketentuan, kamu akan diminta fotokopi ulang dan ini berarti makin lama pula waktu kamu mengurus paspor. Di kanim biasanya tersedia tempat fotokopi, tetapi harga perlembarnya jauh lebih mahal dibandingkan tempat fotokopi di luar kanim.
*Jika ingin membuat atau memperpanjang paspor secara online, cek apakah kanim yang kamu tuju menyediakan service tersebut. Hal ini bisa terlihat di halaman terakhir formulir. Misalnya, saya pernah mencoba memasukkan kanim Jakarta Barat, tetapi ternyata "ditolak" dan saya tidak bisa memilih tanggal yang saya inginkan karena ternyata saat saya kesana, layanan ini memang sedang tidak diaktifkan.
*Kanim besar, seperti Jakarta Selatan, memiliki kuota (batas antrean pemohon yang diterima pada hari itu). Misalnya, kuota untuk pemohon online sebanyak 50 dan manual sebanyak 300. Meskipun loket dibuka pukul 08.00, pemohon rata-rata sudah datang mengantre sekitar 1-1,5 jam sebelumnya, bahkan ada yang 2 jam sebelumnya demi mendapat antrean pertama. Karena itu, kamu sebaiknya memilih kanim yang agak sepi peminat, seperti Jakarta Timur atau Jakarta Barat.
*Meskipun memiliki embel-embel online, sistem ini ternyata tak sepenuhnya online karena pada prinsipnya masih manual. Memang, jika memasukkan data secara online, kamu tidak perlu menunggu dua hari untuk kembali lagi seperti pada pembuatan paspor manual. Kamu pun jika beruntung kebagian kuota antre foto dan wawancara, bisa melakukannya dihari itu juga. Namun, awal sebelum penyerahan berkas, kamu tetap diminta mengisi (dengan pena hitam) selembar formulir berisi data-data pribadi yang persis sama dengan yang kamu isi secara online. Nah!
*Meskipun pemohon online memiliki loket tersendiri, tetapi loket itu hanya untuk penyerahan dan verifikasi berkas. Sedangkan untuk pembayaran, foto, dan wawancara, antrean pemohon online tetap sama dengan pemohon manual.
*Mulai pertengahan januari 2013, kanim Jakarta Barat dan Jakarta Pusat mengadakan uji coba one day service alias layanan pembuatan paspor dalam satu hari. Layanan ini hanya untuk pemohon yang memperpanjang paspor. Catatan lain, paspor lama adalah paspor yang dibuat minimal tahun 2008. Jadi, para pemegang paspor yang dibuat sebelum 2008, tidak bisa menggunakan fasilitas ini dan harus melalui layanan manual.
*Untuk foto, pakailah baju berkerah dan hindari memakai kemeja putih (karena latar belakang paspor kamu adalah putih/krem). Kamu juga diminta melepas kacamata dan bagi pria dilarang menggunakan anting. Dahi dan telinga juga harus terlihat. Nantinya petugas akan mengarahkan kamu saat sesi foto ini.
*Pertanyaan wawancara seputar mengapa kamu ingin membuat paspor.
*Siapkan fisik kamu jika berniat memperbarui paspor seharian (one day service). Sebaiknya bawa bekal makanan dari rumah, seperti makanan kecil, minuman, dan bahkan makan siang. Selain kamu harus menunggu antrean, belum tentu di kanim bersangkutan memiliki kantin atau dekat dengan tempat makan. Siapkan juga mental kamu dalam menghadapi para petugas kanim atau para sesama pemohon paspor dengan sifat mereka yang berbeda-beda. Jangan segan menegur (dengan halus) pemohon yang menyela antrean kamu, jika kamu memang benar.
*Jika tidak terburu-buru mengurus paspor dan tidak keberatan bolak-balik ke kanim dibandingkan menunggu seharian, kamu sebaiknya mengurus paspor secara manual.
Semoga bermanfaat,
Have a good day :D

"pening"

Rabu, 15 Januari 2014


Hebat juga ya jadi anak pertama di keluarga, cowok pula. Hari ini beneran kerasa beratnya. Meski aku bukan anak pertama, situasi dan kondisi menyodorkan posisi itu. TARAAAAA!!! Aku pusing. __"
Agaknya pusingku sifatnya akumulatif dari kemarin. 
Si Om dan saudara jauh tetiba ngumpul, ngobrolin silsilah keluarga dari jaman buapaknya kakek buyut yang punya anak, anaknya punya anak lagi, dan punya anak lagi, dan punya anak lagi, lagi, lagi, lagi, lagi, dan nenekku lahir, dan ibukku lahir, dan gueh! Yang paling buyut, beliau lahir tanggal 6 Agustus 1717. 2006 kmrn di nobatkan sebagai pahlawan nasional. 
Kebayangkan harus nyebut berapa ratus nama? Dan title yang gak pernah kupahami artinya. 
Its ok, aku diem. Karena gak ngerti. Hhaha. 
Dan geonologinya sangat panjang. 

Hal lainnya adalah, mentok! Masuk labirin yang ternyata jalan yang kuambil jalan buntu! 
Buntu kalo maksain diri nyari jalan, yang bikin ak pening karna aku tetep kekeh n percaya bahwa jalan ini bisa di lewati...memang agak menguras energi. Demi mimpi!

Hal yang lain lagi, kopi ku stoknya menipis! Yang tersisa #nilam #kupang #jambi itu pun dikit. Aaak!!

Dan lain-lain. 
Bye!

"karna rasa tidak dapat dipaksa"

Selasa, 15 Oktober 2013

Kembali ke kehidupan semula. NORMAL! Seperti sedia kala, kala yang selalu berubah dan diperbaharui.

Malam, di sebuah kontrakan temen. Listriknya paska bayar, kebetulan kuotanya tinggal dikit, kami sedang menjerang air untuk seduhan dua cangkir kopi flores yang dibawakannya dari Kupang. Sembari menunggu air mendidih, dihidupkannya komputer dan tetiba mati listrik. Itu pertanda kuota tak cukup, salah satu dari kami menyuarakan kehebohannya karna gelap. Salah satu dari kami yang lain berkata "udeh biasa aja, dulu waktu gak ada listrik orang2 gak ada yang seheboh elu."
Dan yang otak gue tangkep, adalah gue harus biasa aja. Kaga usah lebay, situasi sebelum ada "elu" gue sehat-sehat aja, dan sekarang setelah "elu" cabut gue juga harus biasa aja.
Hal biasa dalam perubahan  dan pembaharuan. HAHA!
Btw tengkyu folks!
Lu bikin kalimat yang tanpa sadar bikin gue sadar.
Jadi, sebelum gue denger tu kalimat belum sadar dong?!! Ya udah, udah sadar. Cuma sekarang jadi tambah sadar cing!!
udah final lah sekarang mah!

Dua tahun setelahnya, tak satupun yang berhasil bikin tergumam dan menginspirasi.
Beberapa bulan kemarin, Salah satu sahabat kecil, dia tetiba kasih kenal temennya. Jomblo gitu, katanya. Maksudnya apaan neh? Ya nyomblangin lah.
Dengan hati terbuka gue trima tawarannya. Kenalan lah kita.., belum lama, belum ada sebulan. TAPI...perempuan yang satu ini, yang dikenalin ke gue, memang spesial pake telor. Beneran kaga bokis dah! Spesialnye buat gue aja.
Dia itu satu-satunya perempuan yang mampu bikin saraf otak gue mikir, dan meradang kadangkala. Dan anehnya gue tetep stay sama ni perempuan. Entah karna apa, tapi ya ngrasa yakin aja gitu. Bawaannya gue pengen ngayomin dia mulu (gombal part#1). Pengen ngejaga prasaannya (gombal part#2), selalu pengen share cerita ke dia (gombal part#3).
Ini baru dari sudut pandang subyektif.
Nah, dia gmn ke gue?
Kaga tau dah, ati orang sapa yang ngerti. Gue cuma pengen memberi, dan selalu memberi (gombal part#4).

Berangkat dari niat dan keseriusan, gue bakal terus berusaha (gombal part#5).
Belum-belum, kaya kemarin pas gue ikut tes di tempat kerjaan, percaya gak percaya,, dia yang ada di otak gue buat terus semangat n maju (gombal part#6).
Anjrit! Parah banget gue yak. HAHA!
Semoga dapet ridho Tuhan. Amin
Segini dulu dah. Kapan hari dilanjut lagi.
*gombal #1-#6 adalah gombal ketulusan.

"ini kucing bukan marmut"

Jumat, 24 Mei 2013









ini foto Bogi
kucing kami
kelamin jantan
umur (captured) delapan bulan



|
|
|
|




dia kucing teroris
tiap berantem kalah mulu (pulang pasti bonyok)
kampung putih mata biru

|

bergabung semenjak dalam kandungan
kami lihat dia kluar (lahir)
pipis n pub sembarangan
manja minta makan
marah di dalam kurungan
nakal di luar kurungan

|

timing pulang kandang gak pernah sejalan
dia pulang kami pergi
kami pulang dia mengeong kesakitan habis berantem
kami pergi dia minta tinggal
ditinggal bentar (belum juga jadi berangkat) ngeong minta keluar

|

aktor yang pernah direpotkan:
saya sendiri
pasangan saya (dulu)
keponakan pasangan saya
kakak pasangan saya
mamah pasangan saya
kawan satu atap kami
sekawanan tetangga
ibu saya
bapak saya
adek saya
dan kalian

*begitu sadja*

"kamu tu ya!"

Kamis, 23 Mei 2013
Aku ada di tempat ini lebih dulu dari kamu. Bukan mau cerita tentang senioritas atau semacamnya. Hanya saja terasa ngganjel akhir-akhir ini. 
Agaknya semacam enerjik, ceria, passionate, bersemangat, dan manusia dengan tingkat kecerdasan BAIK. 

Beberapa bulan kenal juga biasa, sebatas rekan. Setahun kenal juga masih biasa. Beneran akhir-akhir ini berasa beda, jadi aneh. Sori ye sebelumnye, ini curhatan gueh. Bukan cerpen kaya biasa aku tulis atau sejenis artikel, bukan. Jadi sebelum terlalu jauh baca a.k.a malas baca curhatan ya kaga useh dilanjutin bacanye. :D
Kami sering banget berselisih pendapat, sering aku omelin kalo dia gak fokus. Nah, kl diingetin nih ya, efeknya banting pintu sama banting buku dimeja kerja. Muka ditekuk kusut kaya kertas diremes-remes. Bisa kan ngebayanginnya? Anggep aja bisa lah ya. Pokoknya liat muka begitu mah malesin sumpah. Kritik tu mental ke dia, eeeeeeeee sedikit keras kepala. Tukang perintah pula, macam bos. Padahal kerjaan dituntut selalu senyum, adem ayem. Nah ini malah super duper bringasan. 

Awalnya, sebelum akhirnya aku tegur. Aku anggap adalah sesuatu yang wajar dia seperti itu, maklum. Dia bis lulus dan kerja pertama ya disini. Dan herannya, aku percaya dan yakin dia bisa berubah.  Dan iya ternyata sekarang jadi lebih bisa menyikapi segala sesuatunya dengan kepala anget, belum dengan kepala dingin. Suatu perkembangan ya to?
Keanehan terasa dari acara pergi minggu lalu, dari berangkat, berkegiatan ditempat tujuan, perjalanan pulang, dan sampai sekarang. Kenapa coba, padahal kan aku gak ngapa-ngapain. Sekedar jalanin rutinitas seperti hari-hari lalu..biasa aja. Gak ada yang dispesialkan.
Anehnya adalah, jadi sering liatin dia, jadi pengen sering didekatnya, pengen maen bareng lagi sama dia. Pengen ngayomin dia, berbagi sukacita sama dia, pengen selalu jadi rekannya. Dan ini adalah sangat aneh.
Rekan lain di tempat kerja pernah bilang begini, "kalian tu ya, tiap hari berantem terus. Ati-ati ntar suka loh". ngomongnye sambil becanda... Ini nih, saya koq jadi kawatir. Beneran jadi aneh, beberapa hari terakhir jadi sering pegang-pegang kepalanya. Dia juga sih,,kalo kuliat-liat juga agak aneh. Semua yang dia nikmati atau lakukan pengen dibagi. Aku juga begitu.
....
....



kira-kira visualisasinya seperti ini
*kaganyambungsamacerita
:D





....
....
OOOooooooiiiiiyy...!!!! SADAR ye!!! 
Iyaaaaaaaa aku sadar!!! Sadar banget malah!!

Iya sepertinya saya suka. ^_^!
Dan muncul rasa cemburu! AAAAKKKKKKKK!!!!!!
Berasa deg-degan sekarang kalo pas deket sama dia.
Sekali lagi ini ANEH!
Kenapa saya bilang ini aneh? Karena saya tipe orang yang sulit bisa suka sama orang. Sangat tidak terbayangkan bisa ke dia. Di luar dugaan banget.

Aku ganteng kamu cantik, aku pintar kamu cerdas, aku Islam kamu Kristen.
Exactly!!!
Kami bisa jadi display pasangan beda agama tahun ini! *ngutip :D

Jika aku dan kamu sedang berdoa bersama sebelum makan,,kalimatnya jadi begini...
"Tuhan yang kami sebut dengan berbagai nama, yang kami sembah dengan berbagai cara. Terimakasih atas berkah yang telah Kau berikan, jauhkan kami dari percobaan. Amin." *ngutiplagi :D




*selamatmakan dan *marimakan

"ceritanya berwarna dan menggelitik"

Rabu, 22 Mei 2013










Sepahamku dia salah satu penggemar POOH

like emmm......the princes of pooh

:D


"peran tangan dalam pesan"

Selasa, 26 Maret 2013


Hey,
rasa terimakasihku tidak cukup untukmu yang telah memperkenalkan aku pada musik ini.
Benar-benar aku menyukai ini, aku merasa bahwa itu merubah perasaanku tentang kota yang kutinggali.
Hubungan yang sedikit bertentangan.
Aku telah menemukan bahwa kamu telah menggantikan bunyi klakson dan teriakan dengan berkata Schubert atau Telemann.
Kota ini menjadi tidak tertahankan indahnya.
Setelah bertahun-tahun berada dalam kecemasan tersebut, musik ini seperti memediasi perdamaian antara kita.
Pembukaan favoritku, Massenefs Meditation.
Jika begitu banyak karya musik tersusun lebih indah, maka aku tidak tahu akan itu.
Bahwa Concerto Brandenburg bukanlah lelucon, dan aku tahu perasaanmu tentang Beethoven.
Aku tidak tahu maksud karya Vivaldi dari Giustino bercerita tentang apa. Tapi bagiku, itu seperti muslihat. Semacam persimpangan ganda yang elegan. Membuatku merasa seperti seorang agen ganda yang berlutut pada mata-mata seksi.
Aku sudah memutuskan untuk lagu pembukaannya darimu, harus datang dengan label peringatan.
Menurut beberapa survey riset online, pertunjukan opera dilakukan dengan perjuangan antara cinta yang sakral dan cinta yang terlarang. Bisa dibilang hanya ada perjuangan.
Suatu hari, aku dipersimpangan jalan. Aku terlupa sesuatu, suatu keadaan yang tidak biasa. Aku mendengarkan sebuah musik pengantar dan musiknya semakin menggema, aku tiba-tiba menyadari bahwa aku punya tangan dan kaki dan badan. Dan aku dikelilingi oleh orang-orang dan mobil.
Sangat sulit untuk menjelaskan apa yang terjadi, tapi aku merasa pada saat itu adalah takdir Tuhan. Namun, ketika kita merasakan hal itu, kita akan berdiam dalam hal yang kongkrit. Seperti halnya di sungai, danau, dan pegunungan. Bersyukur, aku menyadari, bukanlah waktu yang terhenti. Yang kita butuhkan adalah soundtrack yang tepat.
Aku pikir ini infus musik baru dalam hidupku. Setidaknya, membuatku kembali dari kematian yang terburu-buru.
Dan aku berterimakasih akan hal itu kepadamu. Bagaimanapun.
Temanmu.

Semua berjalan lancar.
Senang kau menyukai musik ini.
Aku merasa seluruh hidupku menjadi bersemangat saat mengambil kelas itu, hal yang harus aku lakukan.
Bahwa manusia telah menulis musik itu. Apakah orang-orang menulis musik seperti itu saat ini?
Jika iya, aku tidak tahu tentang hal itu.
Aku harap kamu jatuh cinta dengan karya itu, dari Cosi fan Tutte. Aku menemukannya, saat aku mendengarkannya untuk beberapa alasan.
Semua orang yang kulihat menjadi menarik.
Silahkan bereksperimen dengan itu dan kembali padaku.

Kau benar tentang karya Mozart.
Entah bagaimana membuat semua orang disini seperti pasangan romantis yang bersemangat.
Aku tidak bisa menghindarinya lagi, sepertinya aku suka opera.
Jangan beritahu siapapun tentang ini, jangan pernah.
Serius.

Rahasia operamu aman denganku.
Aku mendengarkan musik ini setelah menulis surat untukmu.
Aku senang mendengarmu mengambilnya dan meninjau mereka.
Dan meskipun jarak berada diantara kita, dan mengetahui kalau kita mendengarkan suara yang sama membuatku merasa kamu tidak sejauh itu.
Jika aku belum menjelaskan tentang ini, aku merindukanmu.
hmm. aku tidak benar-benar tahu mengapa.
Aku baru saja mengenalmu.
Omong-omong, surat tulisan tangan? adalah hal terhebat di dunia.
Tetaplah seperti itu.

Kamu bertanya mengapa musik seperti ini tidak ditulis sekarang.
Aku ingin tahu apakah para komposer-komposer ini mengekspresikan sesuatu hal lewat musik yang terlalu besar untuk kondisi psikis kita saat ini.
Pokoknya, semua baik-baik saja disini.

Kuliah berlanjut.
Kuliah masih panjang.
Meditation massenefs, misalnya.
Dan aku kawatir kalau sistem sarafku sakit dipenuhi oleh besarnya perasaan.
Aku yakin jika disini pada saat yang sama, kita bisa jadi teman baik.
Akankah musik ini menjadi kematianku?
Jika demikian, kamu akan memegang darah ditanganmu.
Bisakah kau berurusan dengan itu?

Seperti aku mencintai huruf-huruf ini.
Aku ingin bertemu kamu lagi.
Lebih cepat lebih baik.
Jadi balik kesini dan temui aku.
Orang-orang disini berlanjut dari 18 ke 22 tahun, dan mereka terus bertindak sesuai usia mereka.
Aku ingin penelpon pria, dan aku ingin itu kamu.
Teman kamu.

Aku memutuskan untuk menawarmu.
Aku akan kesana tanggal 14 dan menginap di penginapan.
Tapi aku ingin untuk jalan-jalan, dengan santai.
Menunggu untuk itu.

"out of the blue"

Selasa, 12 Februari 2013

Kembali ke tempat dimana kita pernah bertemu setelah sekian lama
Membangun tenda disana dan aku akan menetap
Menuliskan sebuah pesan di sebuah cardboard dan foto kamu ditanganku
Bertuliskan,"If you see this girl can you tell her where I am? "

Beberapa mencoba memberiku uang recehan, mereka tidak mengerti
Aku tidak cacat, aku hanya seorang pria yang sedang sakit hati
Aku tau ini bukan sebuah solusi, tapi apa lagi yang bisa kuperbuat
Bagaimana aku bisa bangkit, ketika aku masih mencintaimu

Ketika suatu hari kamu bangun dan merindukanku
Dan kamu bertanya-tanya dimana aku sekarang
Berfikir bahwa ketika itu terjadi, mungkin kamu akan kembali ketempat dimana kita pernah bertemu
Kamu akan menemukanku disini, di sudut jalan
Jadi, aku akan tetap disini

"Kamu tidak bisa tinggal disini." Kata Pak Polisi
Aku bilang,"Saya sedang menunggu seseorang, mungkin sehari, satu bulan, atau bahkan setahun."
Aku akan tetap disini meski panas ataupun hujan
Jika dia berubah fikiran, disinilah tempat pertama dia akan pergi

Orang-orang saling bergumam tentang lelaki yang sedang menunggu perempuannya
Tidak ada lobang disepatunya, tapi terdapat lobang dalam kehidupannya

Mungkin aku akan terkenal dengan nama "lelaki yang tidak dapat dipindah"
Mungkin kamu juga tidak menyangka, aku akan muncul diberita
Dan kamu akan berlari menuju sudut jalan dimana aku menunggumu
Karena kamu tau itu semua hanya untukmu

"Mas, recehnya itu koq dah banyak. Buat beli secangkir kopi saya saja boleh koq" Seorang perempuan separuh baya menawarkan dagangannya.
"He? Kopi?" Tanyaku.
"Iya kopi. Secangkir saja." Tegasnya.
"Boleh, secangkir buat saya."

"Loh? Koq semua recehnya dikasih ke saya, Mas?" Tanya perempuan itu terheran.
"Iya buat kamu semua saja."

"Mas, ini rokok apa? Koq bagus, warnanya hitam ijo bungkusnya.." Tetiba seorang lelaki muda menghampiriku.
"He?"
Diambilnya sebungkus rokok yang ada di depanku,,diputar-putar bungkusnya, dibaca-baca tulisan yang ada dibungkus rokok itu, dibukalah akhirnya, diambilah satu batang,,dimainkan di tangannya dengan memutar membalik mencium aromanya, ditaruh lagi bungkus rokok itu,
"Kamu mau?" Tanyaku.
Tidak ada jawaban dan cuma cengengas-cengenges sambil mainkan sebatang rokok ditangannya sambil sesekali menciumi aromanya.

"Mas, laper nggak?" Tanyanya.
"He?"

"Mas, ngapain disini?" Tanyanya lagi.
"He?" kembali aku melongoh.

"Mas, pinjam koreknya dong."

"....?!" *krikkrik*

"Nama mas siapa?"
"Saya sedang minum kopi, kamu mau?"

"Rumah mas dimana?"
"Saya belum tau mau sampai kapan saya disini."

"Mas, darimana?"
"Kaki saya masih kuat berjalan sendiri."

"Ini foto siapa mas?"
"Ega."

"Rarainan (Hari Suci) Umat Hindu Bali"

PAGERWESI
Pagerwesi jatuh pada setiap Budha Kliwon Sinta. Jadi dirayakan setiap 210 hari. Pada hari ini, umat Hindu-Bali di Buleleng melaksakan upakara persembahan kepada leluhurnya (Guru Reka) di setranya. Perayaan ini menunjukkan kasih sayang antara anak (sentana) dengan leluhur (guru rupaka) yang telah meninggal. Lontar Sundarigama menjelaskan, pagerwesi sebagai hari pemujaan terhadap Sang Hyang Paramesti guru, yakni Ida Sanghyang Widhi yang diwujudkan dalam bentuk guru. Pada hari raya ini, umat Hindu mempersembahkan upakara babantenan yang terdiri dari satu buah daksina, suci asoroh, peras, penyeneng, ajuman, sesayut panca lingga, dan canang wangi lengkap dengan raka-raka (buah-buahan).
Persembahan ini diaturkan di Sanggah Kamulan, stana Bathara Guru. Untuk ayaban, masing-masing orang harus disiapkan sasayut pageh urip dan prayascita. Pada tengah malam, umat hendaknya melaksakan yoga semadhi. Selain itu, umat hendaknya juga melakukan caru terhadap Panca Mahabhuta, sesuai warna tempat mata angin. Segehan ini dipersembahkan di halaman sanggah. Hal ini juga perlu dilengkapi dengan segehan agung, yang dipersembahkan di pintu luar pekarangan.

GALUNGAN
Hari raya Galungan jatuh pada setiap Budha Kliwon Dunggulan. Dunggulan juga disebut Galungan, artinya kemenangan. Jadi, perayaan ini merupakan perayaan hari kemenangan antara dharma (kebenaran) melawan adharma (ketidakbenaran). Hari raya ini dipersiapkan dengan sangat matang sejak enam hari sebelumnya. Yakni mulai Wraspati Wage Sungsang yang disebut Sugihan Jawa. Sugihan berasal dari kata sugi yang berarti pembersihan. Jawa mengandung makna luar. Jadi, hari ini merupakan hari untuk membersihkan sesuatu di luar diri manusia. Misalnya, mengadakan pembersihan di pura-pura, sanggah dan sebagainya. Pada saat ini, umat juga melakukan persembahan kepada Ida Bathara, yaitu berupa bung-bunga harum (puspawangi). Umat manusia diwajibkan ngayab sasayut katututan (lihat lontar Mpu Lutuk sasayut). Mereka yang mendalami Kadyatmikan diharapkan mengadakan yoga semadhi.
Lima hari menjelang Galungan (Sukra Kliwon Sungsang) disebut Sugihan Bali. Pada hari ini, umat sebaiknya melakukan pembersihan diri pribadi dengan memohon tirta gecara dan penglukatan pada seorang sulinggih.
Tiga hari sebelum Galungan, yakni Radite Pahing Wuku Dunggulan, merupakan hari turunnya Butha Amengkurat. Hari ini juga, disebut penyekeban. Penyekeban mengandung makna pengekangan diri dari gangguan bhuta kala. Pada hari ini umat mengadakan kegiatan nyekeb pisang dan tape untuk persiapan hari raya. 
Sehari setelah penyekeban (dua hari sebelum Galungan) disebut hari penyajaan. Pada hari ini, umat biasanya membuat jajan untuk hari raya. Pada hari ini, umat yang mendalami kadyatmikan diharapkan beryoga semadhi untuk mendekatkan bhaktinya kepada Tuhan. 
Setelah penyajaan (sehari sebelum Galungan), yaitu Anggara Wage Wuku Dunggulan disebut penampahan. Pada hari ini, umat biasanya memotong babi untuk persiapan upacara. Di setiap Desa dan Banjar terutama pada perempatan jalan-biasanya dilaksanakan caru. Demikian juga pada setiap pekarangan rumah, umat diwajibkan mempersembahkan segehan tri warna.Tandingannya menurut urip arah mata angin. Timur berwarna putih dengan urip lima, Selatan berwarna merah dengan urip sembilan dan Utara berwarna hitam dengan urip enam. Caru ini berisi daging olahan babi. Segehan ini mesti dilengkapi dengan segehan agung yang berisi tatabuhan tuak arak. Segehan ini diletakkan pada halaman sanggah atau mrajan dan pintu keluar pekarangan rumah. Pada upacara ini disebut Sang Bhuta Galungan. Khusus umat Hindu yang laki-laki diwajibkan mabyakala, prayascita, dan ngayab sasayut. Umat yang memiliki senjata dan pakaian perang, mesti melakukan penyucian dan majaya-jaya (artinya: doa kemenangan). Upacara ini mesti dipimpin pendeta. Sedangkan, umat yang mendalami kadyatmikan diwajibkan beryoga semadhi. 
Pada sore harinya, umat Hindu mesti menghiasi tempat-tempat suci dengan beberapa atribut. Atribut itu antara lain lamak, candigan, capah dan aneka jenis plawa (daun-daunan).
Pada setiap pintu pekarangan, umat mesti menancapkan penjor lengkap dengan sarana persembahannya. Setelah lengkap dengan semua sarana ini, umat kemudian siap untuk merayakan Galungan.
Pada hari raya ini, uamt Hindu biasanya mempersembahkan beberapa jenis babantenan antara lain tumpeng penyajan dengan sate babi yang beraneka jenis, datengan, ajuman, dan bayuan. Banten ini dijadikan satu unit, dipersembahkan pada tempat-tempat yang dipandang suci. Umat juga mengaturkan persembahan ini dibeberapa tempat, seperti tempat tidur, lumbung, tugu, dapur, penghulun setra, penghulun desa, penghulun sawah, hutan, laut dan gunung. Sementara itu, di Sanggah atau Mrajan wajib mempersembahkan tumpeng penyajan, penek wakulan, ajuman, sedahwoh, kembang payas, wangi-wangian dan pasucian. Sedangkan banten di pesambyangan (pyasan) terdiri dari tumpeng pengambyan, jerimpen, pajegan, gebogan dan sodaan lengkap dengan olahan daging babi. 
Umat hendaknya mengaturkan banten ini pada pagi hari dengan perantara asep menyan, puspa wangi dan astanggi. Upacara ini didiamkan semalam Upakara ini baru bisa dianggap selesai pada keesokan harinya dengan melaksanakan tatabuhan. Hari itu disebut Umanis Galungan. Pada hari ini umat hendaknya melakukan upacara pembersihan diri (asuci laksana). Biasanya dengan air suci di mata air, berkeramas, dan matirta air kumkuman. Setelah itu, umat ngayab bekas persembahan Ida Bhatara. Setelah melakukan upacara ini, umat bisa melakukan upacara Dharma Shanti, yaitu saling mengunjungi antara keluarga dan tetanggga.

*bersambung ...

"KOPI"

Kamis, 31 Januari 2013
Kopi pertama kali di datangkan ke Indonesia dari India  tahun 1696 oleh VOC  Belanda, namun tidak sempat berkembang,   karena disapu banjir. Tahun 1699 didatangkan kembali bibit  kopi arabica, bibit ini tumbuh baik di Jawa dan Sumatera. Jenis kopi arabica ini disukai oleh konsumen di Eropa, tahun 1876  serangan hama karat daun meluas, hingga yang tersisa hanya tumbuh pada  ketinggian 1000 m di atas permukaan laut terutama disekitar danau laut tawar Aceh dan sekitar danau Toba Sumatera Utara. Setelah itu  baru didatangkan bibit kopi jenis robusta. Indonesia dikenal sebagai penghasil kopi nomor 4 di Indonesia, setelah columbia. Brazil nomor satu serta nomor dua negara Vietnam.  85 % produksi kopi Indonesia adalah jenis robusta, selebihnya jenis Arabica.   

Jenis arabica banyak diproduksi oleh perkebunan rakyat terutama di Sumatera Utara dan Aceh.  Perkebunan rakyat kepemilikan lahannya 1 ha atau kurang. Jenis arabica rata-rata diarahkan untuk di ekspor. Produksinya rata rata 75.000 ton pertahun. Jenis kopi arabika dipasarkan sebagai Speciality coffe standar grade nomor satu. 

Kopi dikatakan kopi spesial bila produksinya tetap stabil atau sama dengan hasil panen sebelumnya.  Selain itu, citarasa kopi harus memiliki kekhasan tersendiri dan tidak pula berubah. Jenis Arabika  yang ditanam pada dataran Tinggi (> 1000 m  dpl) aroma tajam, Flavor Bagus Floral, Flowery,  Honeyed, Acidity Kuat mild.
Sedangkan  jenis Robusta  ditanam pada  Dataran Rendah – Menengah,  ciri khasnya beraroma Datar, Flavor Datar, Tidak Ada / Lemah acidity , Chocolaty, Karamelly, Pahit, Sepat, Body Kuat Umumnya cita rasa kopi  tergantung pada : 
(1) Jenis/klon/varietas Tanaman
(2) Origin/daerah/ wilayah Asal / Ketinggian tempat
(3) Teknk Budidaya Tanaman
(4)  Kesehatan Tanaman
(5) Kondisi Buah Kopi Saat dipetik
(6) Pengolahan Pasca Panen (Pulping, Fermentasi, Pengeringan Dll.)
(7)  Pengemasan,  Penggudangan
(8) Pengangkutan serta 
(9) Penyangraian.  

Lebih meyakinkan lagi bila petani juga memahami profile cupping produknya. Setiap produk mempunyai cita rasa tersendiri. Sumber Speciality Coffe Indonesia berasal dari Aceh dikenal dengan nama Kopi Gayo yang tumbuh di daratan tinggi Gayo.  
Sumatera Utara kita mengenal kopi lintong, kopi mandailing.  
Lampung kita mengenal kopi lampung yang pada tahun 2011 memperolah penghargaan kopi spesial jenis robusta.  
Jawa Timur kita mengenal kopi jemberi kopi jenis  arabika.  
Bali dikenal dengan kopi Kintamani. 
Nusa Tenggara Timur dikenal dengan nama kopi Flores, kopi bajawa.  
Sulawesi dikenal dengan kopi Toraja.  
Papua juga memproduksi kopi spesial jenis arabika.  
 


 Untuk memastikan bahwa benar kopi tersebut berasal dari tempat tersebut pemerintah telah mengeluarkan sertifikasi Indikasi Geografis sebagai suatu tanda yang menunjukkan bahwa daerah asal kopi, yang karena faktor lingkungan geografis termasuk faktor alam, faktor manusia, atau kombinasi dari kedua faktor tersebut, memberikan ciri dan kualitas tertentu pada kopi yang dihasilkan.  
Selain dari Sertifikasi Indikasi Geografis, seringkali konsumen juga meminta persyaratan bagaimana kopi tersebut dibudidayakan. Sertifikasi pangan organik untuk kopi, menerangkan budidaya kopi tanpa perlakuan  bahan  kimia baik pupuk maupun pestisida buatan.  Ini juga dapat memberikan citarasa tersendiri.   
Kopi organik toraja,  Kopi organik Papua , Kopi organik Kintamani juga telah ada yang memenuhi  persyaratan organik.







*ngopi yuk! :D





"nikahi aku | kau kusayang"

Selasa, 04 Desember 2012
Suatu review mengenai sudut pandang budayawan dan komedian dalam melihat fenomena tentang pernikahan. 

Layaknya undang-undang dasar 1945, pernikahan juga memiliki preambule yaitu: 
Surat Keputusan Mantenantenan,
Mengingat, Menimbang, dan Memutuskan;
- Sekarang musim hujan
- Berzina secara halal dengan pasangannya dalam sebuah lembaga perkawinan bisa dibenarkan
- Pemerintah belum jadi membatalkan kenaikan harga BBM, tarip listrik dan telpon
- Pemimpin Indonesia bikin dagelan dengan mengampuni sejumlah penyayang uang negara
- Lagu-lagu Soneta menginspirasi orang untuk mensyahdukan kepemimpinan nasional

Memberikan ijin kepada Saudara untuk menanggalkan status keperjakaannya dan Saudari menghapus statusnya sebagai perawan, begitu perkawinan kudus diterima keduanya. Harap dilakukan dalam tempo secepat-cepatnya.
Dongeng sebelum bobo pertama.


Keputusan ini boleh diganggu, tapi sama sekali tidak boleh digugat.
Yogyakarta,
Diputuskan oleh yang memutuskan.
________________________________________________________________________________

DIBERKATILAH kiranya, kepada mereka yang masih percaya adanya cinta. Apalagi ketika kemudian, dengan gagah berani, mereka mengukuhkannya dalam bentuk ikatan-ikatan hukum Tuhan. Bukan sekedar komitmen emosional dan nafsuwiyah semata, antara selingkuhwan dan selingkuhwati.
Dengan Mantenantenan diharapkan akan Bersatutenan.
    *Mantenan berhati nyaman
    *Saudara "dimenejeri" Saudari
    *Super manten total
    *Pernikahan yang diberkati
    Cinta itu bahasa Sansekerta, yang dalam bahasa Jawa merupakan inti bahasa KeTuhanan, anon tinon, ling-liniling, sehingga nama asli Jawa bagi yang Ilahi adalah Sang Hyang MANON.
    Cinta itu meringankan, menghidupkan, memimpin.
    KINANTHI, GAMBUH, MEGAT-RUH.










    *sekian

    "G F K"

    Minggu, 02 Desember 2012
    G F K, dalam lafal bahasa inggris terucap J F K, yang mengingatkan salah satu nama presiden Amerika Serikat. 

    Ini dia pict beliau

    G F K disini yang saya maksud adalah Guyup Fajar Kusuma. Adik kandung saya.
    Saya ingin share sedikit mengenai beberapa tentang GFK. 
    Dia anak ketiga dari tiga bersaudara di keluarga kami, dengan saya beda enam tahun. Kakak saya Estri Wulandari dengan saya yang beda tiga tahun.
    GFK sesosok anak lelaki muda biasa hampir sama seperti kebanyakan anak muda yang lainnya, nakalnya, tingkah polahnya, rata-rata hampir sama. Tapi ada beberapa hal yang membuat saya kagum kepada adik saya satu ini, pola dan jalan pemikirannya berbeda jauh dengan anak muda sebayanya (dilingkungan bermainnya). 
    Apakah itu? Kadar kedewasaan anak semumurannya, keterbukaan, kesadaran, kejujuran, amanah, loyalitas, dan kerja keras, pantang mengeluh, empati. 
    Kemungkinan besar hal ini adalah efek dari kenakalannya ketika di bangku sekolah menengah atas, dengan rasa kesadaran yang tinggi dan fikiran terbuka, ternyata mampu merubah seseorang dengan sangat cepat dan menjadikan karakter orang tersebut menjadi sangat tinggi nilainya.
    Sekarang ketika dia sedang menjalani kehidupannya, dia mampu mengolah kritik-kritik yang masuk menjadi bahan memperbaiki diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Kalimat seperti ini mungkin sudah sering kita dengar, dan GFK mampu mengaplikasikannya dengan baik. 

    Here you are...
    Saya tidak bisa ngomong banyak disini, terlalu banyak..banyak sekali yang ingin saya sampaikan (secara langsung).
    Semoga selalu dalam lindungan Tuhan, kami semua selalu berdoa untuk kesuksesanmu. Jadilah contoh yang baik untuk orang-orang yang kamu sayang dan orang-orang disekitarmu, 
    we always love you.  *me and all of your family

    "Annisa Sindhunata Jaestri"

    Minggu, 25 November 2012

    Keindahan dan daya tarik budaya Jawa selalu melambaikan keterasingannya ketika budaya global merasuk dalam pola dan gaya hidup, dahulu budaya Jawa merupakan identitas bangsa, boleh dikatakan sebagai budaya yang mencerminkan bangsa ini. Semangat gotong royongnya, unggah ungguhnya, falsafahnya, dan setiap sudut yang mempunyai arti. Besar pengaruhnya, sekarang?
    Saya geram dengan cara pengasingan budaya ini. Jawa dahulu adalah pusat, sekarang seakan-akan menjadi daerah pheri-pheri. 
    Okey, saya bukan membahas tentang ini.

    Judul di atas adalah sebuah nama yang saya persiapkan dan khusus diperuntukkan bakal calon anak perempuan saya kelak. Saya juga tidak akan berbicara mengenai apa arti dari nama di atas. 
    We'll talk about interest. Sekilas tentang nama.

    Saya teringat ketika belajar sejarah di Sekolah Dasar, ada satu nama yang sangat saya suka sampai sekarang.
    Tribuana Tungga Dewi Jayawisnuwardhani. Beliau adalah Raja ketiga dalam masa pemerintahan kerajaan Majapahit (1328-1350) setelah Raden Wijaya dan Jayanegara. Dalam menjalankan masa pemerintahannya di Majapahit, beliau dibantu oleh suaminya yaitu Kertawardhana. Ketika pemerintahannyalah Gajah Mada yang sangat kita kenal itu diangkat menjadi Mahapatih. 

    Bisa kita lihat pada daftar Geonologi Raja-raja Majapahit dibawah ini..
    Semoga kalian bisa menelaahnya, jika kurang paham bisa di telisik di mbah google agar lebih mudah. 

    Pernah terfikir untuk memakai nama itu untuk anak saya kelak, tapi saya bukan penjiplak, saya ingin sesuatu dari saya untuk saya dan keluarga.
    Nama, gampang-gampang susah untuk membuatnya. Nama di atas, saya tidak membuat atau merencanakan dengan arti yang Wah, karena nama ini datang begitu saja, tanpa permisi, dan saya mempersilahkan dia datang untuk bersemayam dalam hati dan fikiran.
    Nama, akan kita bawa hingga waktu yang tidak terhingga.
    Nama, adalah salah satu bentuk representatif keluarga, pribadi, harapan, dan seterusnya bla..blaa...bla...

    Karena saya cinta budaya Jawa, karena saya sayang dengan Jawa, karena saya tertarik dengan sejarah dan tidak ingin melupakannya, karena saya tertarik dengan Hindu-Jawa, saya suka kerajaan, karena saya ingin melestarikan mereka, karena saya Islam, dengan sangat berbangga hati saya persembahkan "Annisa Sindhunata Jaestri" kepada anak perempuan saya!! 

    Nama untuk lelaki kecil belum datang. hehe

    "sertakan jika ingin beristilah"

    Sabtu, 17 November 2012
    Beginilah selalu biasanya proses mereka. Mereka mulai kamu libatkan dengan aktivitas-aktivitasmu. Mereka lalu 'disekolahkan' kemana-mana. Mereka lalu keras kepala sepertimu, merasa benar sendiri sepertimu. Keras hati karena ditempa oleh keras kehidupan. Keras pikir karena merasa bahwa hidup yang kamu lakoni adalah yang paling keras. Mereka mulai sepertimu, kepala batu! Angkuh seangkuh-angkuhnya!

    Lalu mereka mulai meninggalkan bangku kuliah sambil berkata, "Selamat tinggal neraka pendidikan! Aku akan mencari ilmu di tengah-tengah masyarakatku!"
    Lalu mereka juga akan meninggalkan dan memutuskan ikatan keluarga sambil berkata, "Aku hanya kebetulan lahir dalam garba kalian, dari air mani kalian, tapi akulah si anak zaman!"

    Bertahun-tahun mereka menempa diri mereka untuk semakin menjadi batu. Persis seperti kamu! Persis seperti orang-orang sebelummu! Mungkin ada benarnya hal seperti itu ditempuh. Mungkin dengan cara seperti itu mental-mental baja ditempa. Tapi kamu dan mereka mengidap penyakit paling akut yang tidak diragukan lagi tingkat bahayanya..
    Pertama, kamu dan mereka merasa menjadi pahlawan, dan merasa paling benar!
    Kedua, yang akan membuatmu sinting adalah karena kamu dan mereka tidak pernah tahu apa yang terjadi di tingkat puak-puakmu.
    Kamu, siapa yang menggerakkan? Mengapa mereka menggerakkanmu? Kamu dan mereka mungkin akan bilang: diri kami sendiri, sebab kami orang merdeka!

    Kamu tegang. Kamu marah. Kamu tidak bisa apa-apa. Kamu seperti yang lainnya, terjebak dalam kubangan aneh. Dalam sebuah lumpur peristiwa yang akan terus melucuti seluruh energimu. Kamu telah menghancurkan berhala lamamu, tapi meringkuk dan memberikan sujudmu pada berhala lain yang tidak kalah angkernya.

    Beginilah yang kamu rasakan...
    Tengkukmu terasa sakit. Kamu semakin jarang tidur. Matamu terasa sangat panas. Tulang belakangmu seperti mengencang. Urat-urat di wajahmu menegang. Telingamu terasa kaku. Lehermu tidak bisa dipakai untuk menoleh dengan sempurna.
    Dan beginilah yang kamu rasakan...
    Kamu mulai susah mencerna sesuatu. Kamu mulai kehilangan kemampuan membedakan warna-warna benda. Kamu mulai gampang lupa, apakah keran di kamar mandi sudah dimatikan? Apakah tombol lampu sudah dimatikan? Dimanakah kamu letakkan kunci kamarmu? Dimanakah kamu letakkan dompetmu? Dimanakah kamu letakkan catatan harianmu? Dimanakah kamu?

    Kamu menyadari, sebuah badai besar akan menggulungmu dalam waktu dekat.
    Tulang punggungmu semakin terasa sakit. Tidurmu semakin tidak tenteram. Tengkukmu semakin kencang menajam. Beberapa bagian tubuhmu mulai gerak sendiri. Tubuhmu mulai goyah. Kamu mulai tidak bisa membedakan mana fajar mana sore. Kamu mulai tidak bisa menangkap percakapan-percakapan dengan baik. Kamu mulai asing dengan berita-berita panjang. Dan ini yang kamu ingat terakhir kali sebelum kamu melengking dan ambruk setelah tujuh hari sama sekali tidak bisa tidur: apakah lampu di kamarmu sedang menyala atau padam?!
    Tubuhmu melayang. Tubuhmu berat. Peristiwa-peristiwa datang sepotong-sepotong. Masa sekarang dan masa lalu. Semua terserpih. Kamu sering mendengar suara-suara. Suara-suara masa sekarang dan suara-suara masa lampau. Semua terpilin aneh.

    "Janji Sehari"

    Kamis, 15 November 2012


    “Ta! Mana bukunya?! Dari kemaren aku tunggu di rumah nggak dateng-dateng, aku butuh neh!”
    Duh! malah ketemu Dila, padahal dah jalan lewat pinggir mpe mau masuk got! Sial!
    “Eh, kamu Ndut. Dari mana? Tumben kita ketemu disini.”
    Karepmu, Ta! Udah, nggak usah ngeles. Mana bukunya? Dari kemaren aku dibelakang kamu waktu lewat sini. Kamu tuh sok-sok nggak tau! Dasar!”
    “Heh? Iya tah? Pagi-pagi gini kamu dah bohong, perasaan dari kemaren aku nggak lihat kamu. Orang aku nunggu bus di sini dari bus belum dateng mpe busnya dateng kamu nggak ada. Waahh…acting neh.”
    “Paan? Ngapain juga aku bohong. Yaudah, gini aja. Sekarang mana bukunya, kasihin ke aku, aku dah pegang bukunya. Selesai.” Dila mulai gerang dengan pernyataanku.
    Weh,,duh,,arrgghh,,gmn neh?! Mana bukunya nggak tau kemana, sekarang dah telat ngantor, perut mules, duh…sial!
    “Hm, gini deh Ndut. Tar balik gawe aku ke rumah kamu kasihin buku. Sekarang dah telat neh, bus juga dah keliatan batang idungnya. Sory, dari kemaren aku belum sempet ke ruumm...”
    “Janji!!” Dila memotong kalimatku.
    “Hah? Iya deh aku janji. Ok?” aku menjawabnya dengan nada kikuk.
    “Ya sudah, enyah dari sini. Cepet! Sebelum aku berubah pikiran!”
    “Iya sabar, tuh busnya lagi jalan. Kl sekarang kudu pergi, aku suruh masuk got?”
    “Au! Terserah kamu mau masuk got, masuk penjara, masuk angin, terserah! Yang penting enyah!” Dila terlihat sangat marah dan menyuruhku cepat-cepat pergi dari hadapannya.
    “Iya, sabar. Dah hampir nyampe tumpangannya. Ya sudah yah, see you.” bergegas aku melangkahkan kaki menjauh dari Dila menuju arah datangnya bus.
    Haus darah kayaknya tu orang, galaknya parahhhhh!!! Aku lari kecil nyamperin bus biar cepat pergi.
    20 menit perjalanan ke kantor tempatku bekerja, berdiri, tempat duduk penuh. Minimal aman dari Dila, buat hari ini aja tapi. Rencanaku makan bareng sama Luli balik ngantor gagal, harus ganti agenda ke toko buku dan musti beli tu buku trus kasihin Dila malam ini juga. Kalo nggak, lama-lama aku bisa gila tiap pagi. Mana bus penuh! Eungap! Hah!
    Eh iyah, lupa. Namaku Arta, lulusan S1 yang sedikit lama dalam menyelesaikan masa belajarnya. Lulusan salah satu universitas terkemuka di tanah Jogja dan sekarang sedang berkarir di salah satu bank terkemuka di Jogja.


    Sesampai di tempat kerja, masih ada perjuangan menanjak ke lantai empat, tanpa lift! Dengan nafas terengah-engah dan berjalan sedikit sempoyongan aku berjalan dengan sedikit terburu-buru ke ruang kerjaku. Masuk ke ruangan dan langsung menaruh tas di meja kerja (-nya temen sekantor).
    “Mau kemana, Ta? Buru-buru amat!”
    Renovasi perut! Bentar!” sambil lari menuju toilet.
    “Ih..jorok! Lu kentut yah?!”
    “Iyaaak…maap!” dari kejauhan aku menjawab, sambil berlari kecil.
    Sesaat waktu di dalam toilet terdengar suara remang-remang menyalak dari luar. “Ada apa ribut-ribut?! Pagi-pagi dah pada berisik!”
    Setelah puas dengan urusan perut aku langsung menuju ruang kerja dan mengambil tas,
    “Tadi siapa yang teriak-teriak, Ver? Berisik amat!” tanyaku pelan.
    “Bos besar ngamuk!” Verta menjawabnya dengan berbisik.
    “Ah, srius lu?! Trus lu bilang apa?” bisikku.
    “Kaga ada, cuma bilang tadi ada orang minta sumbangan tapi gue usir.”
    “Wah, parah lu. Ma bos besar brani bo’ong lu.”
    “Becanda gue juga.” Verta menanggapi dengan tersenyum.
    “Tumben lu manis.” aku kembali menanggapi senyumnya dan kami berdua tertawa.
    Pergi dulu, Ver. Ntar balik bareng, gue nebeng. Tapi anterin ke toko buku dulu, gimana?”
    “Iye, gampang itu mah.” Verta meng-iyakan ajakanku. “Lu, mau kemana?!” Tanyanya cepat sambil menengok ke arahku.  
    “Ketemu sama marketing hotel buat booking ruangan, ikut?”
    “Oh, iya dah. Sukses ya.” Jawab Verta dengan ringan.
    Aku bergegas beranjak dari ruang kerja menuju lantai dasar, lewat tangga pastinya. Dan percayalah, karena ini sangat melelahkan.
    Sesampai di bawah aku menuju garasi kendaraan kerja, “Pagi, Pak Lindung.” Sapaku sembari tetap melangkah berjalan menuju ke arahnya. “Pagi, Mas Arta, hendak kemana pagi-pagi sudah terburu-buru?” Tanyanya. Terlihat Pak lindung baru saja keluar dari mobil dan hendak menutup pintunya.
    “Hmm, Pak Lindung hari ini sibuk? Boleh loh jika berkenan mengantar saya ke Horison.” Tanpa banyak kata aku meminta dengan nada bercanda.
    “Sepertinya saya akan sangat disibukkan oleh Mas Arta hari ini.” Jawabnya singkat.
    Tanpa banyak kata lagi aku bergegas masuk ke dalam mobil dan segera berangkat menuju Horison. Pak Lindung adalah salah satu sopir kantor, sebenarnya ada dua orang tapi kebetulan hanya Pak Lindung yang kutemui, sopir satunya entah kemana.
    Matahari mulai terik, kemampuan adaptasi mata mulai berkurang ketika melangkah keluar dari mobil menuju pintu depan hotel. Janji bertemu tidak melewati batas waktu yang telah kami tentukan dan sebuah senyum sapa hangat menyapaku disana.
    Setelah selesai booking ruangan dan menemui pihak marketing hotel, kami pulang menuju kantor, sesampainya di kantor aku kembali menapakki anak tangga satu persatu, langkah demi langkah hingga anak tangga terakhir. Agenda kerjaku hari ini hanya ini saja, selebihnya mempersiapkan segala sesuatunya untuk agenda esok hari. Ketika memasuki ruang kerja, terlihat Verta masih sibuk dengan pekerjaannya. Aku hanya melintas di depannya menuju meja kerjaku yang hanya berjarak dua meja di sebelah kanannya.
    Diwaktu istirahat siang, saat tidak ada lagi yang perlu dikerjakan adalah waktu yang sangat membosankan. 
    Mentok-mentoknya ngobrol sama Lia. Satu tahun dibagian HRD sama sekali belum ada perubahan temenan ma dia, yang dibahas Yuni Sara cerai-lah, Pasha ke-gep berduaan ma cewe barunya-lah. Ga pernah ngobrol yang lebih ada greget apa gitu. Kalo nggak sama Lia ya Ngobrol ma si Tongkin, pasti ngobrolin bola, selalu Chelsea yang diobrolin.
    Kadang-kadang, diwaktu kosong aku berinisiatif maen ke ruang kerja anak-anak bagian laen. Kadang ke ruangan bos besar ngobrol-ngobrol, tapi kalo beliau memanggil duluan. Tapi kebanyakan waktu kosong tetep stanby di ruang HRD baca koran atau majalah dan menyusun laporan panggilan sana sini.
    Sore datang, saatnya pulang. Packing peralatan dan lanjut nyamperin Verta buat nagih janji dan lanjut kerencana hari ini.
    “Dah beres-beres belum?” tanyaku kepada Verta.
    “Udah, tapi neh lagi nungguin Toro. Ada kerjaan yang mau gue kasih ke dia.”
    “Ada klient baru tah?”
    “Iya, baru tadi siang masuk berkasnya. Besok harus dah beres, jadi gue kasih Toro sekarang aja buat kerjaan rumah.”
    “Nah, tuh si Tororojing.” aku melengok ke arah toro dengan tersenyum.
    Verta bergegas beranjak dari tempat duduknya dan menoleh ke arah Toro.
    ”Gue tunggu di depan, Ver. Jangan lama-lama yah.”
    “Ok.” Verta menjawab singkat.
    Aku berjalan ke arah ruang depan dan duduk disofa tunggu. Aku mengambil seberkas kertas dari dalam tasku, sebuah catatan harian, dan mulai membacanya.
    Banyak juga ternyata agenda minggu depan, reserve hotel, koordinasi sama bagian recruitment, deadline diklat calon karyawan baru, waahh,,bisa-bisa lembur lagi.
    “Ayo, Ta.” dari arah belakang Verta melontarkan ajakan.
    “Bentar amat?”
    “Iya, cuma ngasih berkas aja. Jelasin berkasnya besok aja sekalian briefing sama bos besar.” Verta berjalan kearahku dan akhirnya duduk di sebelahku.
    “Kemana dulu neh? Langsung ke toko buku atau makan dulu?” tanyaku.
    “Ke toko buku dulu aja,Ta. Gue juga belum terlalu laper.” jawab Verta.
    Kami beranjak dari sofa, berjalan ke luar menuju tempat parkir.
    Sesampai di toko buku, aku langsung mencari dan mencari buku buat Dila.

    “Ver, bantu cari bukunya. Judulnya Rekayasa Sosial.”
    “Karangan siapa, Ta?”
    “Duh, lupa gue. Pokoknya buku nggak tebel dan nggak tipis juga.”
    “Hah? Gue dah pasang muka serius buat nyari buku, lu nya kasih petunjuk kaga bener, monyong lu!”
    “Udah..,cari aja. Mirip-mirip buku saku.”
    Kami berdua mulai mencari..eh Verta aja yang nyari, aku melakukan pengawasan lingkungan. hehe
    “Gue kesana dulu, ke komputer pencari. Sapa tau dapat judul bukunya. Lu disini aja, Ver.”
    “Yaudah, buruan.” Verta menjawab sambil mencari buku dengan muka serius.
    Setelah dicari ternyata aku nggak nemuin tuh buku. Ada sih, tapi kosong stock-nya. Aku langsung menuju ke tempat Verta, dia lagi berdiri sambil baca buku ditangannya.
    “Gimana, Ta? Dapet?” Verta bertanya dengan mata masih tertuju pada buku yang sedang dibacanya.
    “Ada, tapi stock-nya abis.” aku menjawab dengan muka muram.
    “Lu dapet ga?” aku balas bertanya.
    “Belum.” Verta menjawab dengan santainya.
    Aku mulai panik dengan jawaban Verta. Langsung mengambil buku-buku, mencari dengan sedikit terburu-buru.
    “Kenapa, Ta? Panik gitu.”
    Akhirnya aku jelasin kenapa aku butuh banget tu buku.
    Masih sambil mencari buku Verta mengomentari ceritaku.
    “Yah, salah lu juga, Ta. Kalo dah beres pinjem buku mah dibalikin. Jangan kelamaan buat alas tidur.”
    “Iye, gue ngarti. Sekarang yang paling penting harus dapet tu buku.”
    “Ini bukan, Ta?”
    “Mana..mana..mana..??”
    “Rekayasa Sosial karya Jalaludin Rakhmat..,iya bukan?” sambil menunjukan bukunya kepadaku.
    “Gue tau isinya, tapi ga tau pengarangnya, sampulnya lupa-lupa ingat. Ini bukunya juga masih diplastik.”
    “Udah, buka aja. Lu belaga nyari buku di bagian bawah, gue tutupin pake badan gue. Ntar kalo ada penjaganya dateng gue kasih kode, Ta.”
    “Iye, bentar. Ngomongnya jangan keras-keras, Ver! Parah lu! Da kamera sisi tivi pa kaga? Sama aja gue jongkok tapi kamera ngadepnya ke muka gue!”
    “Tenang, dah gue observasi. Area clear! Buruan, Ta!”
    Setelah aku buka dan sekilas aku baca, isinya ga jauh beda sama buku yang dulu aku pinjam dari Dila.
    “Hm, iya bukan yah. Yaudah, ini aja juga ga apa. Yang penting ada bukunya, ntar kalo salah.. banyak alasan yang bisa dipake.”
    “Dasar!” Verta menanggapi omonganku dan kami berdua tertawa.
    Akhirnya aku ambil buku itu, bayar ke kasir, jalan ke tempat parkir, dan lanjut makan. Kami menuju tempat makan yang nggak jauh dari toko buku yang baru saja kami datangi.

    Di meja makan, Verta mulai mempertanyakan tentang kisah asmaraku. Dia mulai mengulas tentang hubunganku yang dulu sempat aku ceritakan.
    “Gimana hubungan lu ma dia?”
    “Hm?” aku dengan muka kaget, masih dengan makanan di mulutku dan kedua tangan sibuk dengan garpu dan sendok. “Dia yang mana?” tambahku.
    “Yang dulu pernah lu certain ke gue, lupa?” Verta menegaskan.
    “Oh..,yang itu. Dah nggak.” jawabku singkat.
    “Kenapa emang? Bukannya dulu mati-matian ngejar, koq dilepasin?” muka penasaran Verta yang khas mulai menunjukan antusiasmenya.
    “Buruan makannya, keburu tutup warungnya, tuh pelayannya dah ngambilin piring-piring di meja mau dicuci.” aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
    “Jawab dulu, Ta!” Verta terlihat mulai menuntut jawaban atas pertanyaannya.
    “Yang udah ya udah, ga perlu dibahas lagi, Ver. Males juga gue bahas itu lagi.”
    Terlihat dari sudut mataku muka Verta mulai beringasan, sepertinya dia mulai menjadi seorang penyidik yang sedang mengintrogasi tersangka. Aku sangat hafal dengan raut muka tipe ini, suasana mulai sunyi dan sebentar lagi pasti akan terjadi sesuatu yang biasa terjadi saat Verta mulai menikmati raut muka itu.
    “Ta! Lu harr…”
    “Oke..Oke..! Gue certain, tenang dulu.” dengan cepat aku memotong, hampir aja terjadi konflik antar etnis.
    ”Gue telen dulu makanan yang ada di mulut.” tambahku.
    Setelah suasana menjadi lebih hangat aku mulai menceritakan.
    ”Jadi gini, Ver. Masalah pokoknya tuh ada dijalan pikiran yang saling beda. Antara gue ma dia nggak ada yang bisa saling ngerti jalan pikiran masing-masing. Gue baru sadar waktu dah jalan 6 bulan. Gue nganggep jalan pikiran dia tuh kekanak-kanakan, dalam artian dia nggak pernah mau menerima hal-hal baru. Dia bersikukuh mempertahankan pendapatnya yang dia anggap adalah kebenaran yang hakiki. Jujur gue nggak bisa terima. Nggak ada keseimbangan antara gue ma dia kalo harus tetep dipaksain. Sedangkan dia berfikir jalan fikiran gue terlalu absurb buat dia. Kalo kita jalin hubungan serius ma orang, gue rasa harus bisa saling ngerti dan menerima. Saat kita berfikir bahwa hubungan yang kita jalin adalah serius berarti kita mulai untuk konsekuen dengan hubungannya, ngejaga hubungan biar tetep baik, dan lain-lain. Dilihat dari sifat manusia yang nggak pernah puas, dalam hidup seorang manusia selalu menuntut dan menuntut. Nah, gue ma dia tuh saling nuntut. Jadinya ga ketemu. Begitu ceritanya…”
    “Gue lihat kalian sama-sama keras dan teguh. Andainya kalian sejalan pasti bisa jadi pasangan terbaik abad 21!” Verta menjawabnya dengan ringan dan kami berdua tertawa.
    “Lu kira gue sehebat itu?”
    “Gue sih liatnya gitu.”
    “Masa sih?” Tanyaku heran. “Dilihat dari mananya, Ver?” tambahku.
    “Ya ada lah, gue kan dah kenal lu lumayan lama.”
    Aku terdiam sejenak mendengarnya. Jawaban Verta bikin aku penasaran dan aku mulai ngorek-ngorek apa yang sebenernya ada difikiran Verta.
    “Gue tau lah kapasitas diri gue sendiri, tapi ga sehebat itu kali, Ver.” aku coba menanggapi dengan muka datar.
    “Dilihat dari kerjaan kantorlah, lu yang selalu berusaha tepat waktu ngantor, semua kerjaan beres, banyaklah, Ta.”
    “Ver, buruan dah hampir jam 9 malem. Anterin gue ke rumah Dila sekalian gmn?” tanyaku terburu-buru.
    “Ayok, gue juga dah beres makannya.”
    Akhirnya kami lanjutkan perjalanan menuju rumah Dila. Saat diperjalanan Verta berusaha mempertanyakan kembali obrolan yang kepotong, tapi aku enggan menjawab dan mengalihkan pertanyaan-pertanyaan Verta dengan candaan ringan.
    Sesampai di rumah Dila, Verta tetap di mobil dan aku bergegas menuju pintu masuk rumah Dila. Sesaat ketika mau mencet bell Dila buka pintu rumahnya.
                    “Eh kamu, Ta. Mana bukunya dah kamu bawa, kan?”
                    “Udah, tapi bukan buku yang dulu aku pinjem. Judulnya sama tapi pengarangnya beda. Isinya sama koq.” sambil menunjukkan bukunya, aku berharap Dila ga ngamuk.
    Dila terdiam sesaat sambil sekilas membaca buku dan membolak-balik lembar buku.
                    “Yaudah, ini juga nggak apa.” Dila menerima buku yang aku bawa.
    Ku pikir Dila bakal ngamuk liat buku yang aku bawa, tapi sukurlah diterima bukunya dengan senyum. Lega!
                    “Aku langsung pulang yah. Dah ditunggu temen di luar.” tambahku singkat biar langsung cabut.
                    “Nggak mau mampir dulu?”  tambahnya singkat.
                    “Laen waktu aku mampir, ini juga baru pulang dari kantor.”
                    “Yasudah, makasih ya, Ta.”
                    “Iya sama-sama.”  jawabku sambil tersenyum.
                    “Ta!” panggil Dila sesaat setelah aku beranjak dari rumahnya.
                    “Ya!” jawabku kaget sambil menoleh ke arah Dila. “Kenapa?” tambahku singkat.
                    “Enggak apa, maaf yah tadi pagi aku sudah marah-marah.” sambutnya.
                    “Iya, nggak apa. Sama-sama, aku juga minta maaf telat balikin bukunya.” jawabku sambil tersenyum.
    Aku bergegas berjalan menuju mobil Verta dan langsung lanjut pulang.
                    “Gimana, Ta? Tadi kelihatannya baek-baek aja.” tanya Verta.
                    “Iya, syukur banget tadi. Untung kaga ngamuk.” jawabku.
    Sesampai di rumah, Verta mampir sejenak sekedar ngobrol-ngobrol ringan. Tak lama, Verta pamit pulang.
    Nah, sekarang waktunya mandi dan istirahat. “Sepertinya ada yang kurang, apa yah?” tanyaku dalam hati. “Astaga!! Luli … !!! aku lupa bilang janjian makan malam batal!!!” bergegas aku mencari telefon genggamku dan menghubungi Luli.
                “Halo?”
    “Ya, halo. Luli, ini aku Arta. Maaf aku lupa kasih kabar, tadi ada perlu mendadak sama Verta temen kerjaku dikantor.” aku coba jelasin alasanku dan meminta maaf.
    “Iya, nggak apa-apa. Aku tahu ini kamu, Ta. Nomor kamu sudah aku simpan kok. Kamu kemarin bilang kalau jadi makan malam bareng, kamu hubungin aku kan, tadi kamu nggak hubungin aku jadi aku anggap makan malamnya batal.” jawab Luli tenang.
    “Begitu yah, sukurlah. Yasudah, aku mau rehat dulu. Makasih sudah mau ngertiin “ jawabku lega mendengar jawaban Luli.
    “Ok, selamat beristirahat ya.”
    “Ok, see you.”
    Telfon aku tutup dan aku merasa sangat lega hari ini semua masalah terselesaikan. Luli adalah perempuan yang nggak pernah menuntut apapun, meski dia punya permintaan, aku tahu apa permintaan Luli dan aku akan berusaha memenuhi permintaannya.
    Selesai mandi, aku mulai membuka kembali buku catatan agenda untuk hari esok. Masih banyak pekerjaan menanti, apa lagi tadi ada klient baru.
    Sesaat sebelum mataku terlelap, sekilas aku masih penasaran sama omongan Verta. Tapi biarlah, suatu saat aku pasti dapat jawabannya. Huuuaaaaammm…